Hadits tentang Nilai Dunia

Menara Standchart, 14 Maret 2011

Hadits tentang Nilai Dunia

Mari sejenak merenung dari hadits dibawah ini sobat,

Rasulullah saw bersabda, “Demi Allah, dunia ini dibanding akhirat ibarat seseorang yang mencelupkan jarinya ke laut; air yang tersisa di jarinya ketika diangkat itulah nilai dunia.” (HR Muslim).

Itulah gambaran nilai duniawi yang diberikan Rasul. Hendaklah kita meletakkan dunia itu di tangan kita bukan di hati kita. Berlakulah seakan-akan musafir yang sedang mampir rehat di dunia ini hanya untuk sesaat. Lalu kita akan pergi melanjutkan perjalanan, menuju akhirat yang dituju. Ihdinasshiratal mustaqim yaa rabb.

Sekian. Wassalamu’alaykum.

Kisah Argo, si Bocah Cilik

Jakarta, 13 Juli 2010

Kisah Argo, si Bocah Cilik

Ini adalah kisah motivasi yang bagus, optimis, dan mengajarkan kita tentang kekuatan inner-power. Kisah ini saya peroleh dari sebuah blog, kata si bloggernya dia dapetinnya dari radio moderato fm madiun (thx to the blogger to share this story). Met nyimak yaa….

The story:

“Cerita ini mengisahkan bagaimana orang yang bisa sukses itu dimulai dari mimpi lalu tekad dan terakhir usaha dan kerja keras. Namun sering kali banyak sekali orang dan temen di sekeliling kita itu dalam tahap pertama yaitu bermimpi banyak sekali yang menghalangi kita untuk bermimpi dan banyak pula yang mengambil mimpi mimpi kita. Kita simak yuk cerita berikut

Si argo mendapat tugas dari gurunya mengenai membuat cerita mengenai mimpi-mimpinya dan saat dirumah si argo membuat cerita mengenai mimpi-mimpinya itu. Karena ayahnya seorang pelatih kuda miskin yang keluarganya itu sangat kekurangan si argo terobsesi dan memiliki mimpi bahwa dia bila sudah besar nanti memiliki tempat pelatihan kuda yang memiliki luas sebesar 400 hektar dan rumah sebesar 400 meter persegi.pokoknya dalam karangannya tadi dia membicarakan mengenai impiannya membuat sebuah pelatihan kuda yang sangat besar, tanpa terasa karangannya tadi menghabiskan 7 helai kertas.paginya ia pun langsung menumpuk tugasnya tersebut. Setelah 1 minggu berlalu dan akhirnya Tugas tersebut dibagikan dan diberikan nilai.tapi betapa kagetnya argo karena karangannya mendapatkan nilai f dan di tulisi sama gurunya setelah jam pelajaran temui saya di kantor. Saat di kantor argo dimarahi habis2an dengan gurunya karena karangannya katanya tidak masuk akal dan tidak akan tercapai.”argo kamu itu sudah gila,kamu itu hanya anak seorang pelatih kuda miskin dan tak mungkin kamu akan membangun pelatihan kuda sebesar 400 hektar”kata si guru.”kamu saya beri waktu 1 minggu untuk mengganti karangan tersebut dan nilaimu juga bs saya ganti bila kamu mengarang karangan yang lebih logis dan masuk akal” kata guru itu lagi. Lalu setelah argo pulang ke rumah bertanya pada ayahnya. “Ayah saya memiliki mimpi mengenai membangun pelatihan kuda seluas 400 hektar tapi kata guru saya mimpi itu tak akan pernah tercapai dan hanyalah omong kosong belakang karena saya hanyalah anak seorang yang miskin lalu saya disuruh mengganti mimpi saya itu menjadi mimpi yang lain yang sesuai dan masuk akal” kata si argo.”nak mimpimu adalah masa depanmu jadi terserah kamu,kamu mau menggantinya atau tidak “jawab ayah si argo dengan bijaksana dan sabar. “Baiklah ayah terima kasih atas pendapatmu” kata si argo.

Setelah di sekolah pun si argo tetap membawa karangannya yang dulu yang bercerita tentang pelatihan kuda dan peternakan kuda seluas 400 hektar dan dikumpulkan lagi kepada gurunya namun ada tulisannya biarkanlah nilai F tetap terpajang menjadi nilaiku namun inilah impianku tidak akan pernah bisa tergantikan dengan impian yang lainnya.

Setelah berpuluh puluh tahun berlalu si argo akhirnya beranjak dewasa dan dia akhirnya bisa menggapai mimpinya yang mempunyai peternakan kuda dan memiliki pelatihan kuda sebesar 400 hektar dan rumah sebesar 400 meter persegi.saat gurunya datang ke tempat pelatihan kudanya dan bertemu dengan argo ia berkata “kamu hebat nak, maafkan bila dulu saya telah melarangmu bermimpi seperti ini, saya salut padamu, saya hanyalah seorang guru yang hanya bisa merenggut mimpi2 anak sepertimu” kata si guru pada Argo.

My opinion:

Dari cerita tersebut, kita dapat mengambil hikmah bahwa; jika kita menjadi Argo dan menghadapi situasi yang serupa, tindakan apa yang akan kita ambil, apakah mengikuti pandangan orang lain atau mengikuti kata hati sendiri. Di sisi lain, jika kita melihat karakter guru Argo, walaupun dia guru yang memberikan pengajaran, tetapi dia bukanlah pendidik, karena tidak semua pengajar bisa mendidik. Namun si guru tetap memiliki sifat positif, yaitu ketika Argo berhasil mewujudkan mimpinya, sang guru mau mengakui kesalahan asumsi awalnya.

source: http://www.bayumukti.com/kisah-motivasi-dari-argo-sibocah-cilik/

ps: to share and remind my own self

Beasiswa ITB Untuk Semua

Pojok Kost, Jakarta Selatan

21 Mei 2009

Beasiswa ITB Untuk Semua

Di suatu siang di kantor, saya membuka milis ITB angkatan saya. Ada sebuah percakapan tentang “Beasiswa ITB Untuk Semua” yang ternyata sedang membutuhkan relawan untuk mendatangkan peserta ke ITB Bandung untuk menjalani test USM. Saya membaca milis ini dan tertarik menjadi relawan. Saya kemudian menghubungi panitia yang tercantum di milis tersebut dan setelah confirmed saya pun resmi jadi relawan.

Saya diberitahu bahwa saya memegang 9 orang anak, 4 dari Jawa Timur dan 5 dari Jawa Barat. Saya bertugas menelepon dan memberi informasi-informasi yang diperlukan kepada mereka. Dari Sembilan anak ini, saya memutuskan menghubungi yang berasal dari Jawa Timur dulu karena perjalanan mereka menuju Bandung lebih rumit. Saat ini sudah 7 orang dari mereka yang telah saya hubungi.

Banyak pengalaman serta tumpah ruah perasaan yang saya alami ketika menjadi relawan ini, saya yakin banyak anak-anak bangsa negeri ini nun jauh di pelosok sana yang memiliki potensi tiada batas…When there is a will, there is a way.. and they need direction, information, and chance… terkadang mereka terkendala masalah ketidaktahuan informasi beasiswa, dll…

Senangnya bisa menjadi bagian dari program Beasiswa ini…

Alhamdulillah.. semoga Beasiswa ini terus berlanjut setiap tahunnya dengan porsi siswa yang meningkat, sehingga semakin banyak siswa dari seluruh pelosok Indonesia yang bisa mengecap pendidikan tinggi, demi kelanjutan kualitas anak bangsa, demi kelanjutan kualitas bangsa ini sendiri di tangan mereka kelak…

Amin.

Bincang-Bincang; Konsep Pendidikan, Keterampilan, dan Kesempurnaan Penyelesaian Pekerjaan

Bismillahirrahmanirrahim
Sangatta, 2 March 2009

Bincang-Bincang; Konsep Pendidikan, Keterampilan, dan Kesempurnaan Penyelesaian Pekerjaan


Suatu waktu, saya berbincang-bincang dengan sodara seputar kurikulum pendidikan. Dari hasil pengamatannya sewaktu menimba ilmu disuatu tempat di negara x, ia mengatakan bahwa kurikulum disana cukup berbeda dengan kurikulum di kita. Setidaknya yang dia amati disana adalah sistem pendidikan tingkat TK-SD. Jika dibandingkan dengan kurikulum Indonesia yang lebih menekankan ke sistem hafalan terhadap banyaknya materi pelajaran, umumnya anak-anak di luar lebih difokuskan ke arah proses, pengalaman, serta pendalaman terhadap ide kurikulum itu sendiri.

Misalnya begini, di Indonesia kita disuruh menghafal sistem tata surya yang terdiri dari matahari, planet-planet, serta benda-benda langit lain yang mengitarinya. Sementara di luar, para murid diajarkan untuk membuat sistem tata surya tersebut. Mereka membuat matahari, planet2 dan benda lainnya, serta kerangka lintasannya. Sehingga mereka lebih terlibat dengan dunia dari konsep itu sendiri.

Menghafal merupakan cara belajar lama dan baik untuk meningkatkan daya ingat. Namun membuat/mengerjakan/mewujudkan konsep hafalan itu sendiri menurutku merupakan cara belajar paling efektif untuk lebih memahami sesuatu serta memicu perkembangan kreativitas anak. Cabang-cabang ide dapat bermunculan dalam proses pembuatan tersebut. Namun selain pemikiran, menurutku sense keteknikan pun perlu diasah.

Saya jadi teringat dengan salah satu games yang dimainkan pada waktu out bond pertamina. Di dalam tim, saya berperan sebagai advisor. Ketika proses perencanaan yang notabene melibatkan pikiran/ide, rasanya semua mengalir dengan cukup lancar. Namun ketika proses perwujudan ide2 tersebut dimulai, saya tidak dapat melaksanakannya selancar ketika merencanakannya. Hal ini cukup lama hinggap di pikiranku, bahkan hingga saat ini pun masih sering saya pertanyakan, mengapa demikian? Kelancaran ide tak sebanding dengan kemampuan bertindak.

Di lain waktu, saya mengamati pekerjaan-pekerjaan yang diselesaikan oleh orang-orang Indonesia maupun luar. Baik di perusahaan tempat saya bekerja maupun di tempat-tempat umum seperti pemerintahan, fasilitas jalan, tempat ibadah, kompleks perumahan, dll. Contohnya adalah, kompleks perumahan tempat saya bekerja dengan kompleks perumahan perusahaan tambang batu bara kompleks tetangga (KPC). Setahu saya, KPC memiliki share dengan luar negeri, pegawainya sendiri banyak yang dari luar sehingga kemungkinan konsep dan pengerjaan fasilitas perumahan mereka diawasi oleh mereka sendiri. Setelah jalan-jalan ke kompleks mereka, saya membandingkan bahwa perumahan mereka dikerjakan dan ditata dengan sangat apik. Konturnya, finishing touchnya, taman, jalan, pengecatan tembok, jarak antar rumah, jarak antar tanaman, jenis material bangunan dan cat, dll. Pengerjaan kompleks mereka benar-benar selesai dan bukan asal selesai. Nilai estetika pun sangat mereka perhatikan.

Ketiga hal tersebut menurutku memiliki hubungan. Yaitu antara konsep pendidikan tersebut diatas, contoh games di outbond, serta kesempurnaan penyelesaian pekerjaan para ekspatriat/orang luar ini. Dalam pandangan saya, kesempurnaan pekerjaan didasari oleh kemampuan mengaplikasikan isi pikiran dikarenakan keterbiasaan dalam melibatkan diri pada setiap konsep pembelajaran. Jadi jika kita terbiasa mempelajari suatu konsep dengan melibatkan diri mewujudkan/mengerjakannya maka kita akan membangun sense keteknikan / keterampilan tertentu. Setelah sense keteknikan / keterampilan ini terbangun, maka selanjutnya kita akan semakin ahli kemudian semakin sempurna dalam menyelesaikan sesuatu. Semakin sering proses ini terulang, semakin kita menguasainya, sehingga semakin baik hasilnya. Ini bisa dikorelasikan dengan salah satu filosofi Jepang – Kaizen – perbaikan dari waktu ke waktu, penyempurnaan dari waktu ke waktu. Penyempurnaan berkesinambungan.

Jadi kesimpulannya, desain kurikulum sekolah sejak SD hingga perkuliahan sangat mempengaruhi bagaimana keterampilan dan tingkat kesempurnaan penyelesaian pekerjaan seseorang nantinya. Dan hal ini baru dapat dilihat setelah 10-20 tahun sejak belajar formal di SD. Jadi jika kita hendak meningkatkan performa sumber daya manusia kita, maka kita sudah tahu harus memulai darimana.

Wallahu ’alam bisshawab.

Membangun keluarga yang prestatif & memiliki integritas

Bismillahirrahmanirrahim

Membangun Keluarga Prestatif & Berintegritas

Sedikit orang yang dapat menemukan kelebihannya dan mengasahnya sehingga ia dapat menjadi the right person in the right time and in the right place. Maka beruntunglah jika anda termasuk orang-orang yang sedikit ini. Saya sendiri sedang berusaha agar termasuk ke dalam kelompok yang sedikit ini dengan mengenal diri lebih baik serta berusaha lebih baik sehingga dapat lebih bermanfaat bagi diri, keluarga, agama, bangsa, dan negara.

Berbekal pengalaman diri, kedepannya, saya ingin anak-anak saya kelak terarah dengan lebih baik dari segi pendidikan maupun ketaqwaan serta dapat mengenali kemampuan serta bakat mereka lebih baik dan lebih dini dari saya. Saya ingin mereka pergi ke sekolah-sekolah terbaik di Indonesia maupun di dunia. Saya ingin mereka mendapatkan lingkungan terbaik, terbaik menurut definisi saya karena memilih tetangga harus lebih dulu dibanding memilih tempatnya, demikian sabda Rasul. Kembali ke masa depan anak, ini berarti sebagai orang tua kita harus mempersiapkan segalanya. Baik dari segi keuangan, strategi, perencanaan pendidikan, maupun persiapan mental dan iman anak dikala dekat maupun jauh dari orang tua. Namun saya pun tidak keberatan bahkan senang jika mereka tetap bisa berada di dekat saya.

Anak kita akan memiliki zaman yang berbeda dengan yang kita alami. Mereka akan menghadapi tantangan yang berbeda, mungkin sama tetapi berbeda versi atau mungkin malah lebih ribet. Maka dari itu, yang perlu kita persiapkan adalah hal-hal yang bersifat fundamental. Hal yang bersifat mendasar ini menurut saya ada 4 yaitu mempersiapkan aqidah, ilmu, akhlak kepada diri sendiri, serta akhlaknya kepada orang lain.

Dengan aqidah, kemanapun mereka pergi, mereka akan senantiasa memiliki pegangan yang kuat, prinsip yang kukuh dan dapat memfilter hal yang baik dan tidak baik.

Dengan ilmu, yaitu pendidikan, mereka dapat berkompetisi sesuai dengan bidang keahlian mereka masing-masing. Ali bin Abi Thalib, sahabat yang mana rasul bersabda tentangnya, “Jika aku adalah gudang ilmu, maka Ali adalah pintunya” berkata, “Sebaik-baik warisan adalah ilmu”. Ilmu akan menjadi kendaraan untuk mereka mencapai cita-cita.

Dengan akhlak kepada diri sendiri, mereka akan dapat menghargai diri mereka sendiri. Berupaya mengenal diri mereka, kelemahan dan kekuatan yang merupakan titipan Allah. Memotivasi diri mereka sendiri dalam kondisi apapun. Membisikkan kata-kata positif kedalam diri mereka sendiri. Membangun kualitas dan integritas diri. Menganggap ujian sebagai tangga menuju diri yang lebih baik laeknya jerih payah kerang untuk menghasilkan mutiara.

Sedangkan dengan akhlak kepada orang lain, mereka akan memiliki kepekaan serta kemampuan untuk bersosialisasi dengan orang lain dari berbagai kalangan. Mereka dapat berkomunikasi, menyampaikan pikiran atau pendapat, mendengarkan pendapat orang lain, meramu diskusi menjadi keputusan yang tepat, mampu merasakan kepedihan orang lain terutama sesama muslim, menolong murni karena keikhlasan karenaNya dan tanpa tendensi, mampu mengambil tindakan yang tepat dengan penuh pertimbangan. Dengan akhlak kepada orang lain, semoga mereka dapat menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lain.

Semoga hal ini dapat terwujud. InsyaAllah.

Semoga kelak kita bisa menjadi orang tua yang bertanggung jawab bagi anak-anak kita dan diberi kemudahan untuk mempertanggungjawabkan mereka dihadapanNya kelak. Amin.

Wassalam.

Kisah Wanita Sholehah yang Meluluhkan Hati Ulil Amri (Penguasa)

Jakarta Selatan, 7 Juli 2014

Bismillahirrahmanirrahim…

Salah satu hal yang saya kerjakan kalau pekerjaan sudah selesai atau sedang lowong dikantor adalah membaca artikel. Kalau saya suka artikelnya, maka akan saya bookmark, terkadang juga saya copas ke blog ini dengan mencantumkan link addressnya. Nah, saat baca2 artikel tadi, saya menemukan kisah yang sangat menarik, insyaAllah memiliki hikmah sehingga terdapat pelajaran yang dapat kita petik darinya. Berikut kisah tsb:

Seorang gubernur pada zaman Khalifah Al-Mahdi, pada suatu hari mengumpulkan sejumlah tetangganya dan menaburkan uang dinar dihadapan mereka. Semuanya saling berebutan memunguti uang itu dengan suka cita. Kecuali seorang wanita kumal, berkulit hitam dan berwajah jelek. Ia terlihat diam saja tidak bergerak, sambil memandangi para tetangganya yang sebenarnya lebih kaya dari dirinya, tetapi berbuat seolah-olah mereka orang-orang yang kekurangan harta.

Dengan keheranan sang Gubernur bertanya, “Mengapa engkau tidak ikut memunguti uang dinar itu seperti tetangga engkau?”

Janda bermuka buruk itu menjawab, “Sebab yang mereka cari uang dinar sebagai bekal dunia. Sedangkan yang saya butuhkan bukan dinar melainkan bekal akhirat.”

“Maksud engkau?” tanya sang Gubernur mulai tertarik akan kepribadian perempuan itu.”

Maksud saya, uang dunia sudah cukup. Yang masih saya perlukan adalah bekal akhirat, yaitu salat, puasa dan zikir. Sebab perjalanan di dunia amat pendek dibanding dengan pengembaraan di akhirat yang panjang dan kekal.”

Dengan jawaban seperti itu, sang Gubernur merasa telah disindir tajam. Ia insaf, dirinya selama ini hanya sibuk mengumpulkan harta benda dan melalaikan kewajiban agamanya. Padahal kekayaannya melimpah ruah, tak kan habis dimakan keluarganya sampai tujuh keturunan. Sedangkan umurnya sudah di atas setengah abad, dan Malaikat Izrail sudah mengintainya.

Akhirnya sang Gubernur jatuh cinta kepada perempua lusuh yang berparas hanya lebih bagus sedikit dari yang paling buruk itu. Kabar itu tersebar ke segenap pelosok negeri. Orang-orang besar tak habis pikir, bagaimana seorang gubernur bisa menaruh hati kepada perempuan jelata bertampang jelek itu.

Maka pada suatu kesempatan, diundanglah mereka oleh Gubernur dalam sebuah pesta mewah. Juga para tetangga, trmasuk wanita yang membuat heboh tadi. Kepada mereka diberikan gelas crystal yang bertahtakan permata, berisi cairan anggur segar. Gubernur lantas memerintah agar mereka membanting gelas masing-masing. Semuanya bingung dan tidak ada yang mau menuruti perintah itu. Namun, tiba-tiba terdengar bunyi berdenting, ternyata ada orang yang dianggap gila yang melaksanakan perintah itu. Itulah si perempuan berwajah buruk. Di kakinya pecahan gelas berhamburan sampai semua orang tampak terkejut dan keheranan.Gubernur lalu bertanya, “Mengapa kau banting gelas itu?”

Tanpa takut wanita itu menjawab, “Ada beberapa sebab. Pertama, dengan memecahkan gelas ini berarti berkurang kekayaan Tuan. Tetapi, menurut saya hal itu lebih baik daripada wibawa Tuan berkurang lantaran perintah Tuan tidak dipatuhi.”

Gubernur terkesima. Para tamunya juga kagum akan jawaban yang masuk akal itu.

Sebab lainnya?” tanya Gubernur.Wanita itu menjawab, “Kedua, saya hanya menaati perintah Allah. Sebab di dalam Alquran, Allah memerintahkan agar kita mematuhi Allah, Utusan-Nya, dan para penguasa. Sedangkan Tuan adalah penguasa, atau ulil amri, maka dengan segala resikonya saya laksanakan perintah Tuan.”

Gubernur kian takjub. Demikian pula paran tamunya. “Masih ada sebab lain?”

Perempuan itu mengangguk dan berkata, “Ketiga, dengan saya memecahkan gelas itu, orang-orang akan menganggap saya gila. Namun, hal itu lebih baik buat saya. Biarlah saya dicap gila daripada tidak melakukan perintah Gubernurnya, yang berarti saya sudah berbuat durhaka. Tuduhan saya gila, akan saya terima dengan lapang dada daripada saya dituduh durhaka kepada penguasa saya. Itu lebih berat buat saya.”Maka ketika kemudian Gubernur yang istrinya telah meninggal tsb melamar lalu menikahi perempuan bertampang jelek dan hitam legam itu, semua yang mendengar bahkan berbalik sangat gembira karena Gubernur memperoleh jodoh seorang wanita yang tidak saja taat kepada suami, tetapi juga taat kepada gubernurnya, kepada Nabinya, dan kepada Tuhannya.

sumber: http://tausyah.wordpress.com/2011/03/12/kisah-wanita-sholehah-yang-buruk-rupa-meluluhkan-hati-sang-ulil-amri-penguasa-hingga-jatuh-hati-padanya/

My note: nah, jelas kan yah hikmah yang bisa kita ambil dari kisah tsb. Dalam pandangan saya, sungguh cerdas wanita tsb, sungguh terjaga muru’ah-nya, kuat agamanya. Ia memiliki ketajaman berfikir serta keteguhan hati. Patuh kepada Rabb-nya serta patuh pada amir-nya dengan tetap menjaga ‘izzah dirinya. Subhanallah ya…. :)

Pelajari Adab Sebelum Menuntut Ilmu

Jakarta, 7 Juli 2014

Bismillahirrahmanirrahiim….

Terus terang saya menyesal terlambat mengetahui bahwa dalam menuntut ilmupun ada adabnya. Hari ini saya membaca beberapa artikel, dan ini adalah salah satu artikel yang menurut saya wajib saya re-post sebagai pengingat diri. Sekiranya sudah saya ketahui sejak dulu, maka bisa saya aplikasikan. Menuntut ilmu sejak TK hingga kuliah, sudahkah adab didalam menuntut ilmu ini dijalankan? Bukankah indah jika dijalankan? Mungkin ilmu yang kita peroleh akan lebih berberkah, wallahu’alam. Berikut artikel tsb:

Ilmu dan adab tidaklah dapat dipisahkan, seorang penuntut ilmu harus beradab ketika menerima ilmu dari gurunya, beradab terhadap gurunya, beradab dengan teman-temannya, bahkan beradab terhadap buku yang dia pelajari.

Ibunya Imam malik rahimahumallah, sangat memahami, ketika berkata kepada anaknya yang masih kecil, Imam Malik kecil ketika akan mendatangi gurunya, ulama Madinah saat itu, Rabiah Ar-ra’yi rahimahullah.

Sang Ibu tidak berkata kepada anaknya, belajarlah ilmu banyak-banyak sehingga engkau menjadi ulama. Dengarkan apa yang dikatakan sang ibunda kepada anaknya, “Ambillah adabnya, sebelum engkau mengambil ilmu darinya“.

Adab didahulukan dari ilmu, karena dengan beradab kita meraih ilmu. Hasilnya, tidak tanggung-tanggung…. Imam Malik, siapakah yang tidak tau tentangnya ? Ternyata apa yang dilakukan oleh Ibundanya Imam Malik adalah praktek dari firman Allah taala ketika ingin mengajari Nabi Musa alaihissalam.

Di dalam surat Thaha ayat 11 sampai 14 sangat jelas tentang hal itu, sebelum Allah taala mewahyukan kepada Nabi Musa alaihissalam bahwa Dia Allah yang Tiada Ilah (Tuhan yang berhak disembah) selain Dia.
Allah taala berfirman kepadanya,

فَاخْلَعْ نَعْلَيْكَ إِنَّكَ بِالْوَادِ الْمُقَدَّسِ طُوًى

Lepaskan kedua alas kakimu, sesungguhnya engkau sedang berada di lembah suci Tuwa” (QS. Thaha 12).

Sebelum menerima wahyu, Allah taala mengingatkan Nabi Musa alaihissalam akan sebuah adab, melepas alas kaki di lembah suci Thuwa. Inilah adab sebelum menerima ilmu…

Setelah kita mengetahui cerita Nabi Musa alaihissalam, dan juga kisah Imam Malik dan ibunya, sedikit saya ceritakan kisah saya sendiri. Suatu hari saya memasuki masjid Nabawi, tiba-tiba ada yang menegur saya, “Tangan kanan!“. Ada apa dengan tangan kananku, atau ada yang salah dengan tangan kiriku ?

Akupun sadar kalau ditangan kananku ada sepasang sandal, ditangan kiri ada kitab dan mushaf Al-Quran…
Oh… aku sadar, kalau bapak itu sedang mengajari aku sebuah adab.

sumber: http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/menuntut-ilmu-pelajari-adab-dulu.html

My note: Tulisan tsb saya re-post dari muslim.or.id, penulisnya pernah kuliah di Madinah dan menceriterakan pengalamannya saat diajari adab memegang al-Quran dengan tangan kanan. Ada yang lucu dalam cerita tsb, ya setidaknya menurutku :)

Sikap Seorang Muslim saat Didera Fitnah dan Dizhalimi

Jakarta Selatan, 9 Juni 2014

Long time no see, tak terasa sudah sekitar setahun ga nge-blog, nge-thesis lumayan menyita pikiran (really? trust me, really! only He knows my ups&downs)….Alhamdulillah kabar saya baek, ortu juga baek…. oiya, nemu di blog orang…bagus ini:

Suatu hal yang pasti tidak akan luput dari keseharian kita adalah difitnah dan dizhalimi orang lain. Kadang kita ini sudah berhati-hati, berbuat baik, namun kebaikan dan prestasi kita, tidak selamanya dapat dukungan dan penghargaan. Ternyata ada juga yang mencibir, kemudian memfitnah dan menzhalimi diri dan keluarga kita. Hal ini membuat kita down dan hampir-hampir bisa stress. Orang-orang yang suka memfitnah itu ternyata bukan hanya memfitnah, tapi ia juga meneror dan menyakiti kita dan keluarga kita lahir dan batin.

Apa yang harus kita lakukan, jika kita difitnah dan dizhalimi oleh orang lain. Solusi apakah yang diberikan oleh Islam dalam hal ini? Ada 5 solusi yang bisa kita lakukan , yaitu:

1. Menyiapkan mental untuk tetap tegar dan sabar.

Kita harus mempersiapkan diri untuk tetap tegar dan sabar menghadapi kondisi apapun dan bagaimanapun. Baik senang atau susah. Jika kita difitnah dan dizhalimi. Maka sebenarnya itu bonus buat kita. Allah sayang terhadap kita. Karena hakikatnya kalau kita difitnah dan dizhalimi, maka keburukan kita akan diberikan kepada yang memfitnah dan menzhalimi kita. Sebaliknya kebaikan orang yang memfitnah akan diberikan kepada kita. Jika kita tahu akan hal ini. Hati kita akan tenang. Ternyata orang yang memfitnah dan menzhalimi itu adalah orang-orang yang merugi dan menghancurkan diri mereka sendiri.

2. Ridha dan ikhlas menerima fitnah dan kezhaliman dari orang lain.

Rasululullah mengajarkan agar kita ikhlas menerima fitnah dan kezhaliman dari orang lain. Perumpamaannya adalah orang yang difitnah itu laksana bola pimpong yang ditekan kedalam air. Jika bola pimpong itu dilepaskan maka ia akan melompat tinggi ke angkasa. Demikianlah perumpamaan orang yang ridho dan ikhlas menerima fitnah dan kezhaliman dari orang lain, insya Allah derajatnya akan ditinggikan oleh Allah SWT.

3. Yakin Allah yang akan membalas.

Allah Maha Melihat dan Maha Mendengar.  Tidak ada satu atompun yang lepas dari pengawasan-Nya. Tidak ada satu kejahatanpun yang tidak akan dibalas. Jika kita difitnah oleh orang lain dan dizhalimi lahir dan batin, pasrahkan kepada Allah. Jangan kotori hati dan jiwa kita untuk balas dendam. Ikhlaskan semuanya kepada Allah SWT. Allah yang akan membalasnya dengan siksa yang pedih. Alam semesta juga akan membalas kejahatan orang tersebut. Karena alam semesta adalah tentara Allah yang sangat setia kepada perintah-Nya. Maka bersabarlah dan pasrahkan kepada Allah SWT.

4. Evaluasi Diri Jika kita difitnah dan dizhalimi.

Maka yang harus kita lakukan adalah mengevaluasi diri kita. Apakah kita melakukan kesalahan seperti yang difitnahkan tersebut. Jika jawabannya ’ya’, maka kita harus cepat-cepat bertaubat dan memperbaiki diri kita. Jika jawabannya ’tidak’, bersabarlah. Semua kejadian pasti ada hikmahnya. Kita tidak tahu ada skenario apa dibalik fitnah tersebut. Yang jelas, semua kejadian itu ada hikmah dan pelajaran yang terbaik buat kita. Kita harus lebih mendekatkan diri kita kepada Allah SWT, memohon perlindungan kepada-Nya.

5. Hanya Allah-lah Satu satunya Penolong dan Pelindung

Sesungguhnya tidak akan terjadi sesuatu kecuali dengan izin Allah swt. Baik berupa musibah maupun nikmat. Walaupun bergabung jin dan manusia seluruhnya untuk mencelakakan kita, demi Allah tidak akan jatuh satu helai rambut pun tanpa izin-Nya. Begitu pun sebaliknya, walaupun bergabung jin dan manusia menjanjikan akan menolong atau memberi sesuatu, tidak pernah akan datang satu sen pun tanpa izin-Nya. Mati-matian kita ikhtiar dan meminta bantuan siapapun, tanpa izin-Nya tak akan pernah terjadi yang kita harapkan. Maka, sebodoh-bodoh kita adalah orang yang paling berharap dan takut kepada selain Allah Swt. Itulah biang kesengsaraan dan biang menjauhnya pertolongan Allah Swt. Ketahuilah, makhluk itu “La haula wala quwata illa billahil’ aliyyil ‘ azhim”. Tiada daya dan tiada upaya kecuali pertolongan Allah Yang MahaAgung.

Allah menjanjikan dalam Surah Al-Thalaq ayat 2 dan 3, “Barang siapa yang bersungguh-sungguh mendekati Allah (bertaqwa), niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar bagi setiap urusannya, dan akan diberi rezeki dari tempat yang tidak disangka-sangka. Dan barang siapa yang bertawakal hanya kepada Allah, niscaya akan dicukupi segala kebutuhannya.”

Oleh: KH.Shohibul Faroji Al-Robbani

sumber: http://bangojie.wordpress.com/2013/03/11/sikap-seorang-muslim-saat-didera-fitnah-dan-dizhalimi/

My Note: Ingatkanlah diri kita akan Firman Allah dalam surah Al-Hadid 22-23, “Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri” (Al-Hadid: 22-23).

Kisah Seguci Emas

Menara Standchart, 04 Februari 2011

Kisah Seguci Emas

Sebuah kisah yang terjadi di masa lampau, sebelum Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dilahirkan. Kisah yang menggambarkan kepada kita pengertian amanah, kezuhudan, dan kejujuran serta wara’ yang sudah sangat langka ditemukan dalam kehidupan manusia di abad ini.

Al-Imam Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اشْتَرَى رَجُلٌ مِنْ رَجُلٍ عَقَارًا لَهُ فَوَجَدَ الرَّجُلُ الَّذِي اشْتَرَى الْعَقَارَ فِي عَقَارِهِ جَرَّةً فِيهَا ذَهَبٌ فَقَالَ لَهُ الَّذِي اشْتَرَى الْعَقَارَ: خُذْ ذَهَبَكَ مِنِّي إِنَّمَا اشْتَرَيْتُ مِنْكَ الْأَرْضَ وَلَمْ أَبْتَعْ مِنْكَ الذَّهَبَ. وَقَالَ الَّذِي لَهُ الْأَرْضُ: إِنَّمَا بِعْتُكَ الْأَرْضَ وَمَا فِيهَا. فَتَحَاكَمَا إِلَى رَجُلٍ فَقَالَ الَّذِي تَحَاكَمَا إِلَيْهِ: أَلَكُمَا وَلَدٌ؟ قَالَ أَحَدُهُمَا: لِي غُلَامٌ. وَقَالَ الآخَرُ: لِي جَارِيَةٌ. قَالَ: أَنْكِحُوا الْغُلَامَ الْجَارِيَةَ وَأَنْفِقُوا عَلَى أَنْفُسِهِمَا مِنْهُ وَتَصَدَّقَا

Ada seorang laki-laki membeli sebidang tanah dari seseorang. Ternyata di dalam tanahnya itu terdapat seguci emas. Lalu berkatalah orang yang membeli tanah itu kepadanya: “Ambillah emasmu, sebetulnya aku hanya membeli tanah darimu, bukan membeli emas.”

Si pemilik tanah berkata kepadanya: “Bahwasanya saya menjual tanah kepadamu berikut isinya.”

Akhirnya, keduanya menemui seseorang untuk menjadi hakim. Kemudian berkatalah orang yang diangkat sebagai hakim itu: “Apakah kamu berdua mempunyai anak?”

Salah satu dari mereka berkata: “Saya punya seorang anak laki-laki.”

Yang lain berkata: “Saya punya seorang anak perempuan.”

Kata sang hakim: “Nikahkanlah mereka berdua dan berilah mereka belanja dari harta ini serta bersedekahlah kalian berdua.”

Hikmah dari Kisah

Sungguh, betapa indah apa yang dikisahkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini. Di zaman yang kehidupan serba dinilai dengan materi dan keduniaan. Bahkan hubungan persaudaraan pun dibina di atas kebendaan. Wallahul musta’an.

Dalam hadits ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisahkan, transaksi yang mereka lakukan berkaitan sebidang tanah. Si penjual merasa yakin bahwa isi tanah itu sudah termasuk dalam transaksi mereka. Sementara si pembeli berkeyakinan sebaliknya; isinya tidak termasuk dalam akad jual beli tersebut.

Kedua lelaki ini tetap bertahan, lebih memilih sikap wara’, tidak mau mengambil dan membelanjakan harta itu, karena adanya kesamaran, apakah halal baginya ataukah haram?  Mereka juga tidak saling berlomba mendapatkan harta itu, bahkan menghindarinya. Simaklah apa yang dikatakan si pembeli tanah: “Ambillah emasmu, sebetulnya aku hanya membeli tanah darimu, bukan membeli emas.”

Barangkali kalau kita yang mengalami, masing-masing akan berusaha cari pembenaran, bukti untuk menunjukkan dirinya lebih berhak terhadap emas tersebut. Tetapi bukan itu yang ingin kita sampaikan melalui kisah ini.

Hadits ini menerangkan ketinggian sikap amanah mereka dan tidak adanya keinginan mereka terhadap sesuatu yg belum jelas haknya. Juga sikap jujur serta wara’ mereka terhadap dunia, tidak berambisi untuk mengambil hak yang belum jelas siapa pemiliknya. Kemudian muamalah mereka yang baik, bukan hanya akhirnya menimbulkan kasih sayang sesama mereka, tetapi menumbuhkan ikatan baru berupa perbesanan, dengan disatukannya mereka melalui perkawinan putra putri mereka. Bahkan, harta tersebut tidak pula keluar dari keluarga besar mereka. Allahu Akbar.

Bandingkan dengan keadaan sebagian kita di zaman ini, sampai terucap dari mereka: “Mencari yang haram saja sulit, apalagi yang halal?” Subhanallah.

Alangkah baik dan indahnya jika kita dapat mengikuti sikap wara’ mereka, serta kemampuan memberikan solusi seperti yang dicontohkan Rasulullah saw pada kisah ini. Amiiin :).

source:…,,

Wiseword

Jakarta, 17 Juli 2012

Wiseword: Tetaplah Dalam Kebaikan

“Bila engkau baik hati, bisa saja orang lain menuduhmu punya pamrih; tapi bagaimanapun, berbuat baiklah”..

“Bila engkau jujur dan terbuka, mungkin saja orang lain akan menipumu; tapi bagaimanapun, jujur dan terbukalah”…

“Bila engkau mendapat ketenangan dan kebahagiaan, mungkin saja orang lain jadi iri; tapi bagaimanapaun, berbahagialah”…

“Bila engkau sukses, engkau akan mendapat beberapa teman palsu, dan beberapa sahabat sejati; tapi bagaimanapun, jadilah sukses”…

“Apa yang engkau bangun selama bertahun-tahun mungkin saja dihancurkan orang lain hanya dalam semalam; tapi bagaimanapun, bangunlah”…

“Kebaikan yang engkau lakukan hari ini, mungkin saja besok sudah dilupakan orang; tapi bagaimanapun, berbuat baiklah”…

“Bagaimanapun, berikan yang terbaik dari dirimu.. Karena pada akhirnya, engkau akan tahu bahwa ini adalah urusan antara engkau dan Tuhanmu. Ini bukan urusan antara engkau dan mereka”

Dzahabtu min Baitullah

Jakarta, 14 Mei 2012

Dzahabtu min Baitullah

Alhamdulillah, dzahabtu min baitullah ma’a ummii, wa abii, wa akhii, wa ukhtii.

Dzahabnaa ilaa hunaaka fii isnaini ‘asyar yaum.

Alhamdulillah wa subhanallah, jamil jiddan akhlaqa shahshon hunaaka.

Sa adzhab kamman insyaAllah, amin.

 

What Every Business Analyst Should Know

Jakarta, 10-10-2011

What Every Business Analyst Should Know

Here are some knowledge for me that seems quite important for my profession. thanks to the link, http://www.130bbs.com/2010/07/23/what-every-business-analyst-should-know/ .

What Every Business Analyst Should Know

July 23rd, 2010 posted by admin
What Every Business Analyst Should Know

All business analysts should know about the importance of what they should ask when they are analysing the performance of a company. They should also know what the client wants and how their analysis is going to help them, it also helps if they are trained as a independent financial adviser as most business problems tend to hinge on money.

They should try to understand the problems the business they are analyzing, is facing. This is because if they do not understand the problem, then they cannot solve it. They should know that the project program is not going to help in knowing what the client actually desires.

The second step is to know how the business is trying to alleviate or solve the problem that they are facing. The actions taken in the past should also be taken note of, so that you can tell your client what to do. Question your client and find out what they have done previously. You will soon find out what action was not undertaken in the past.

The third step is to question about the resources that the project is utilizing and what are the outside resources that may be necessary for the completion of the project. Make a list of the external interactions taken by the business. This will help you to define the company’s weakness and strength.

The fourth step is to determine a vision for the project. Make a comparision with the one that you have kept in mind for the business. This will help you to ensure the consistencies and find out the parallel outlook. This means that both your vision and your client’s vision should be the same.

The fifth step is to find out about the risks that you forsee and also the risks that you are willing to let your client take. Try to overcome their fears and doubts by explaining clearly about the risk factors.

The sixth step is to set up a time frame for the project. Most businessmen have set time constraints, which in fact affect the progress of the business. Find out the time frame and set up your plans accordingly.

The seventh step is to know about the projected cost of the program and the end user. For this you should collect marketing data so that you can find out what the end user actually desires. Every business analyst should know that to reach the goal is the real objective, and for this he must talk, listen and question everyone who is involved in the program.