Kisah Argo, si Bocah Cilik

Jakarta, 13 Juli 2010

Kisah Argo, si Bocah Cilik

Ini adalah kisah motivasi yang bagus, optimis, dan mengajarkan kita tentang kekuatan inner-power. Kisah ini saya peroleh dari sebuah blog, kata si bloggernya dia dapetinnya dari radio moderato fm madiun (thx to the blogger to share this story). Met nyimak yaa….

The story:

“Cerita ini mengisahkan bagaimana orang yang bisa sukses itu dimulai dari mimpi lalu tekad dan terakhir usaha dan kerja keras. Namun sering kali banyak sekali orang dan temen di sekeliling kita itu dalam tahap pertama yaitu bermimpi banyak sekali yang menghalangi kita untuk bermimpi dan banyak pula yang mengambil mimpi mimpi kita. Kita simak yuk cerita berikut

Si argo mendapat tugas dari gurunya mengenai membuat cerita mengenai mimpi-mimpinya dan saat dirumah si argo membuat cerita mengenai mimpi-mimpinya itu. Karena ayahnya seorang pelatih kuda miskin yang keluarganya itu sangat kekurangan si argo terobsesi dan memiliki mimpi bahwa dia bila sudah besar nanti memiliki tempat pelatihan kuda yang memiliki luas sebesar 400 hektar dan rumah sebesar 400 meter persegi.pokoknya dalam karangannya tadi dia membicarakan mengenai impiannya membuat sebuah pelatihan kuda yang sangat besar, tanpa terasa karangannya tadi menghabiskan 7 helai kertas.paginya ia pun langsung menumpuk tugasnya tersebut. Setelah 1 minggu berlalu dan akhirnya Tugas tersebut dibagikan dan diberikan nilai.tapi betapa kagetnya argo karena karangannya mendapatkan nilai f dan di tulisi sama gurunya setelah jam pelajaran temui saya di kantor. Saat di kantor argo dimarahi habis2an dengan gurunya karena karangannya katanya tidak masuk akal dan tidak akan tercapai.”argo kamu itu sudah gila,kamu itu hanya anak seorang pelatih kuda miskin dan tak mungkin kamu akan membangun pelatihan kuda sebesar 400 hektar”kata si guru.”kamu saya beri waktu 1 minggu untuk mengganti karangan tersebut dan nilaimu juga bs saya ganti bila kamu mengarang karangan yang lebih logis dan masuk akal” kata guru itu lagi. Lalu setelah argo pulang ke rumah bertanya pada ayahnya. “Ayah saya memiliki mimpi mengenai membangun pelatihan kuda seluas 400 hektar tapi kata guru saya mimpi itu tak akan pernah tercapai dan hanyalah omong kosong belakang karena saya hanyalah anak seorang yang miskin lalu saya disuruh mengganti mimpi saya itu menjadi mimpi yang lain yang sesuai dan masuk akal” kata si argo.”nak mimpimu adalah masa depanmu jadi terserah kamu,kamu mau menggantinya atau tidak “jawab ayah si argo dengan bijaksana dan sabar. “Baiklah ayah terima kasih atas pendapatmu” kata si argo.

Setelah di sekolah pun si argo tetap membawa karangannya yang dulu yang bercerita tentang pelatihan kuda dan peternakan kuda seluas 400 hektar dan dikumpulkan lagi kepada gurunya namun ada tulisannya biarkanlah nilai F tetap terpajang menjadi nilaiku namun inilah impianku tidak akan pernah bisa tergantikan dengan impian yang lainnya.

Setelah berpuluh puluh tahun berlalu si argo akhirnya beranjak dewasa dan dia akhirnya bisa menggapai mimpinya yang mempunyai peternakan kuda dan memiliki pelatihan kuda sebesar 400 hektar dan rumah sebesar 400 meter persegi.saat gurunya datang ke tempat pelatihan kudanya dan bertemu dengan argo ia berkata “kamu hebat nak, maafkan bila dulu saya telah melarangmu bermimpi seperti ini, saya salut padamu, saya hanyalah seorang guru yang hanya bisa merenggut mimpi2 anak sepertimu” kata si guru pada Argo.

My opinion:

Dari cerita tersebut, kita dapat mengambil hikmah bahwa; jika kita menjadi Argo dan menghadapi situasi yang serupa, tindakan apa yang akan kita ambil, apakah mengikuti pandangan orang lain atau mengikuti kata hati sendiri. Di sisi lain, jika kita melihat karakter guru Argo, walaupun dia guru yang memberikan pengajaran, tetapi dia bukanlah pendidik, karena tidak semua pengajar bisa mendidik. Namun si guru tetap memiliki sifat positif, yaitu ketika Argo berhasil mewujudkan mimpinya, sang guru mau mengakui kesalahan asumsi awalnya.

source: http://www.bayumukti.com/kisah-motivasi-dari-argo-sibocah-cilik/

ps: to share and remind my own self

Belajar dari Seorang Pianis Cilik

Jakarta, 13 Juli 2010

Belajar dari Seorang Pianis Cilik

Seringkali saat kita akan menggapai impian-impian besar kita, kita selalu dihantui rasa kegagalan dan bujukan-bujukan dari hati bahwa apa yang akan kita lakukan akan gagal. Terkadang kita ketakutan dan bingung oleh rasa tersebut. Ada sebagian kecil orang terus menerobos ketakutan tersebut dan berhasil menuju kesuksesan. Namun tidak sedikit pula, yang belum mencoba sudah ketakutan akan gagal. Untuk lebih detailnya mari kita pelajari cerita berikut ini

Di Rusia terdapat seorang ayah dan anak berumur 5 tahun yang hidup bersama. Karena sang ayah yang suka sekali kepada namanya pertunjukan piano sehingga anaknya yang masih kecil tersebut di sekolahkan pada sekolah piano ternama di rusia. Saat sedang ada konser piano dari salah seorang pianis terkenal di dunia, ayah tersebut langsung membeli 2 tiket untuk menontonnya. Saat konser piano tiba, Gedung tempat pertunjukan pianis ternama tadi sangat amat penuh oleh penonton dan pengunjung. Lampu di gedung tersebut dimatikan sebelum acaranya dimulai.

Tiba-tiba saja si anak kecil umur 5 tahun tadi tidak tahan duduk di kursi, langsung saja dia berkeliaran dan tiba-tiba saat panggung sedikit demi sedikit dibuka, si anak kecil tadi langsung naik keatas panggung dan mendekati piano. Ia langsung saja memainkan piano tadi dengan lagu twinkle-twinkle little star. Spontan saja petugas lampu sorot kaget karena belum saatnya sang pianis memainkan pianonya, dikarenakan belum ada aba-aba untuk memulai acara. Namun meskipun demikian si petugas tadi langsung saja menyorot bagian tempat piano. Tapi betapa kagetnya seluruh penonton dan petugas tadi ternyata yang memainkan piano tadi bukan sang pianis tapi seorang anak berumur 5 tahun.

Mengetahui hal tersebut sang pianis aslinya tidak marah ataupun mengusir anak kecil tadi pergi. Namun Ia langsung saja naik keatas panggung dan mengimbangi serta membenahi jika ada kesalahan dari sang bocah cilik tadi. Mereka berdua akhirnya berduet dengan solid dan bagus. Selesai acara pun semua penonton bersorak-sorai kagum pada kedua insan tadi. Yang satu adalah seorang pianis terkenal sedangkan yang satunya lagi adalah seorang bocah cilik yang dengan keluguannya, naik ke panggung dan bermain sesuai dengan apa kata hatinya.

Nah apa yang bisa diambil hikmahnya dari cerita diatas ?? Kita hendaknya dalam menggapai impian kita, kita bersikap seperti seorang bocah cilik tadi. Ia tidak pernah merasa takut dalam melakukan sesuatu yang ia inginkan, ia melakukan sesuatu sesuai kata hatinya, dan yang terjadi adalah ia sukses membuat penonton kagum padanya. Nah yang dapat kita petik dari seorang pianis terkenal adalah jikalau anda sudah menjadi orang sukses dan hebat jangan pernah mengira kesuksesan anda adalah hasil dari kerja keras anda dan jerih payah anda saja. Namun dibalik kesuksesan anda itu, pasti ada andil dari orang lain. Jadi hargailah orang lain, janganlah sombong saat anda sudah berada diatas.

Source: http://www.bayumukti.com/belajar-dari-seorang-pianis-cilik/


Budi dan Rupa

Jakarta Selatan, 3 Desember 2009

Budi dan Rupa


Kalau menjerat burung Kedidi, janganlah senja baru ke taman

Kalau memikat idaman hati, janganlah rupa jadi taruhan, janganlah jangan rupa taruhan

Kalau ke laut susur gelombang, jangan kemudi patah daunnya

Kalau bertaut kasih dan sayang, jangan diuji dalamnya cinta, janganlah jangan diuji cinta


Kita berbudi orang merasa dik, biar sedikit dibawa mati

Kalaulah rupa taruhan jiwa dik, pudar sedikit berpaling hati

Kalau ingin berkasih harus bijak memilih, tebu teberau tidaklah sama

Kalau ingin bercinta bijak pilih permata, hidup bahagia sepanjang masa

Jangan renung apa dikata, renung niat setulus jiwa


Bagus yah kata-katanya? Ini lirik lagunya Siti Nurhalizah, one of my favorite artist. Bersahaja dan berkepribadian kuat. Di lirik ini, ada kata-kata yang tidak saya fahami, maklum ini bahasa melayu. But I think, overall, it has a good message. Mungkin seperti ini ya messagenya….. yang nampak belum tentu sama dengan isinya~

Wa libasuttaqwaa dzaalika khair.

- Wassalam -

Beasiswa ITB Untuk Semua

Pojok Kost, Jakarta Selatan

21 Mei 2009

Beasiswa ITB Untuk Semua

Di suatu siang di kantor, saya membuka milis ITB angkatan saya, 2003. Ada sebuah percakapan tentang “Beasiswa ITB Untuk Semua” yang ternyata sedang membutuhkan relawan untuk mendatangkan peserta ke ITB Bandung untuk menjalani test USM. Saya membaca milis ini dan tertarik menjadi relawan. Saya kemudian menghubungi panitia yang tercantum di milis tersebut dan setelah confirmed saya pun resmi jadi relawan.

Saya diberitahu bahwa saya memegang 9 orang anak, 4 dari Jawa Timur dan 5 dari Jawa Barat. Saya bertugas menelepon dan memberi informasi-informasi yang diperlukan kepada mereka. Dari Sembilan anak ini, saya memutuskan menghubungi yang berasal dari Jawa Timur dulu karena perjalanan mereka menuju Bandung lebih rumit. Saat ini sudah 7 orang dari mereka yang telah saya hubungi.

Banyak pengalaman serta tumpah ruah perasaan yang saya alami ketika menjadi relawan ini, saya yakin banyak anak-anak bangsa negeri ini nun jauh di pelosok sana yang memiliki potensi tiada batas… Biar bapaknya Supir angkot, Anaknya bisa jadi Pilot…. Saya setuju dengan iklan tersebut… Begitulah, When there is a will, there is a way.. and they need direction, information, and chance… terkadang anak-anak ini terkendala masalah biaya, ketidaktahuan informasi beasiswa, dll…

Aaahhh…. Senangnya bisa menjadi bagian dari program Beasiswa ini…

Alhamdulillah.. semoga Beasiswa ini terus berlanjut setiap tahunnya dengan porsi siswa yang meningkat, sehingga semakin banyak siswa dari seluruh pelosok Indonesia yang bisa mengecap pendidikan tinggi, demi kelanjutan kualitas anak bangsa, demi kelanjutan kualitas bangsa ini sendiri di tangan mereka kelak…

Amin.

Bincang-Bincang; Konsep Pendidikan, Keterampilan, dan Kesempurnaan Penyelesaian Pekerjaan

Bismillahirrahmanirrahim
Sangatta, 2 March 2009

Bincang-Bincang; Konsep Pendidikan, Keterampilan, dan Kesempurnaan Penyelesaian Pekerjaan


Suatu waktu, saya berbincang-bincang dengan sodara seputar kurikulum pendidikan. Dari hasil pengamatannya sewaktu menimba ilmu disuatu tempat di negara x, ia mengatakan bahwa kurikulum disana cukup berbeda dengan kurikulum di kita. Setidaknya yang dia amati disana adalah sistem pendidikan tingkat TK-SD. Jika dibandingkan dengan kurikulum Indonesia yang lebih menekankan ke sistem hafalan terhadap banyaknya materi pelajaran, umumnya anak-anak di luar lebih difokuskan ke arah proses, pengalaman, serta pendalaman terhadap ide kurikulum itu sendiri.

Misalnya begini, di Indonesia kita disuruh menghafal sistem tata surya yang terdiri dari matahari, planet-planet, serta benda-benda langit lain yang mengitarinya. Sementara di luar, para murid diajarkan untuk membuat sistem tata surya tersebut. Mereka membuat matahari, planet2 dan benda lainnya, serta kerangka lintasannya. Sehingga mereka lebih terlibat dengan dunia dari konsep itu sendiri.

Menghafal merupakan cara belajar lama dan baik untuk meningkatkan daya ingat. Namun membuat/mengerjakan/mewujudkan konsep hafalan itu sendiri menurutku merupakan cara belajar paling efektif untuk lebih memahami sesuatu serta memicu perkembangan kreativitas anak. Cabang-cabang ide dapat bermunculan dalam proses pembuatan tersebut. Namun selain pemikiran, menurutku sense keteknikan pun perlu diasah.

Saya jadi teringat dengan salah satu games yang dimainkan pada waktu out bond pertamina. Di dalam tim, saya berperan sebagai advisor. Ketika proses perencanaan yang notabene melibatkan pikiran/ide, rasanya semua mengalir dengan cukup lancar. Namun ketika proses perwujudan ide2 tersebut dimulai, saya tidak dapat melaksanakannya selancar ketika merencanakannya. Hal ini cukup lama hinggap di pikiranku, bahkan hingga saat ini pun masih sering saya pertanyakan, mengapa demikian? Kelancaran ide tak sebanding dengan kemampuan bertindak.

Di lain waktu, saya mengamati pekerjaan-pekerjaan yang diselesaikan oleh orang-orang Indonesia maupun luar. Baik di perusahaan tempat saya bekerja maupun di tempat-tempat umum seperti pemerintahan, fasilitas jalan, tempat ibadah, kompleks perumahan, dll. Contohnya adalah, kompleks perumahan tempat saya bekerja dengan kompleks perumahan perusahaan tambang batu bara kompleks tetangga (KPC). Setahu saya, KPC memiliki share dengan luar negeri, pegawainya sendiri banyak yang dari luar sehingga kemungkinan konsep dan pengerjaan fasilitas perumahan mereka diawasi oleh mereka sendiri. Setelah jalan-jalan ke kompleks mereka, saya membandingkan bahwa perumahan mereka dikerjakan dan ditata dengan sangat apik. Konturnya, finishing touchnya, taman, jalan, pengecatan tembok, jarak antar rumah, jarak antar tanaman, jenis material bangunan dan cat, dll. Pengerjaan kompleks mereka benar-benar selesai dan bukan asal selesai. Nilai estetika pun sangat mereka perhatikan.

Ketiga hal tersebut menurutku memiliki hubungan. Yaitu antara konsep pendidikan tersebut diatas, contoh games di outbond, serta kesempurnaan penyelesaian pekerjaan para ekspatriat/orang luar ini. Dalam pandangan saya, kesempurnaan pekerjaan didasari oleh kemampuan mengaplikasikan isi pikiran dikarenakan keterbiasaan dalam melibatkan diri pada setiap konsep pembelajaran. Jadi jika kita terbiasa mempelajari suatu konsep dengan melibatkan diri mewujudkan/mengerjakannya maka kita akan membangun sense keteknikan / keterampilan tertentu. Setelah sense keteknikan / keterampilan ini terbangun, maka selanjutnya kita akan semakin ahli kemudian semakin sempurna dalam menyelesaikan sesuatu. Semakin sering proses ini terulang, semakin kita menguasainya, sehingga semakin baik hasilnya. Ini bisa dikorelasikan dengan salah satu filosofi Jepang – Kaizen – perbaikan dari waktu ke waktu, penyempurnaan dari waktu ke waktu. Penyempurnaan berkesinambungan.

Jadi kesimpulannya, desain kurikulum sekolah sejak SD hingga perkuliahan sangat mempengaruhi bagaimana keterampilan dan tingkat kesempurnaan penyelesaian pekerjaan seseorang nantinya. Dan hal ini baru dapat dilihat setelah 10-20 tahun sejak belajar formal di SD. Jadi jika kita hendak meningkatkan performa sumber daya manusia kita, maka kita sudah tahu harus memulai darimana.

Wallahu ’alam bisshawab.

Membangun keluarga yang prestatif & memiliki integritas

Bismillahirrahmanirrahim

Membangun Keluarga Prestatif & Berintegritas

Sedikit orang yang dapat menemukan kelebihannya dan mengasahnya sehingga ia dapat menjadi the right person in the right time and in the right place. Maka beruntunglah jika anda termasuk orang-orang yang sedikit ini. Saya sendiri sedang berusaha agar termasuk ke dalam kelompok yang sedikit ini dengan mengenal diri lebih baik serta berusaha lebih baik sehingga dapat lebih bermanfaat bagi diri, keluarga, agama, bangsa, dan negara.

Berbekal pengalaman diri, kedepannya, saya ingin anak-anak saya kelak terarah dengan lebih baik dari segi pendidikan maupun ketaqwaan serta dapat mengenali kemampuan serta bakat mereka lebih baik dan lebih dini dari saya. Saya ingin mereka pergi ke sekolah-sekolah terbaik di Indonesia maupun di dunia. Saya ingin mereka mendapatkan lingkungan terbaik, terbaik menurut definisi saya karena memilih tetangga harus lebih dulu dibanding memilih tempatnya, demikian sabda Rasul. Kembali ke masa depan anak, ini berarti sebagai orang tua kita harus mempersiapkan segalanya. Baik dari segi keuangan, strategi, perencanaan pendidikan, maupun persiapan mental dan iman anak dikala dekat maupun jauh dari orang tua. Namun saya pun tidak keberatan bahkan senang jika mereka tetap bisa berada di dekat saya.

Anak kita akan memiliki zaman yang berbeda dengan yang kita alami. Mereka akan menghadapi tantangan yang berbeda, mungkin sama tetapi berbeda versi atau mungkin malah lebih ribet. Maka dari itu, yang perlu kita persiapkan adalah hal-hal yang bersifat fundamental. Hal yang bersifat mendasar ini menurut saya ada 4 yaitu mempersiapkan aqidah, ilmu, akhlak kepada diri sendiri, serta akhlaknya kepada orang lain.

Dengan aqidah, kemanapun mereka pergi, mereka akan senantiasa memiliki pegangan yang kuat, prinsip yang kukuh dan dapat memfilter hal yang baik dan tidak baik.

Dengan ilmu, yaitu pendidikan, mereka dapat berkompetisi sesuai dengan bidang keahlian mereka masing-masing. Ali bin Abi Thalib, sahabat yang mana rasul bersabda tentangnya, “Jika aku adalah gudang ilmu, maka Ali adalah pintunya” berkata, “Sebaik-baik warisan adalah ilmu”. Ilmu akan menjadi kendaraan untuk mereka mencapai cita-cita.

Dengan akhlak kepada diri sendiri, mereka akan dapat menghargai diri mereka sendiri. Berupaya mengenal diri mereka, kelemahan dan kekuatan yang merupakan titipan Allah. Memotivasi diri mereka sendiri dalam kondisi apapun. Membisikkan kata-kata positif kedalam diri mereka sendiri. Membangun kualitas dan integritas diri. Menganggap ujian sebagai tangga menuju diri yang lebih baik laeknya jerih payah kerang untuk menghasilkan mutiara.

Sedangkan dengan akhlak kepada orang lain, mereka akan memiliki kepekaan serta kemampuan untuk bersosialisasi dengan orang lain dari berbagai kalangan. Mereka dapat berkomunikasi, menyampaikan pikiran atau pendapat, mendengarkan pendapat orang lain, meramu diskusi menjadi keputusan yang tepat, mampu merasakan kepedihan orang lain terutama sesama muslim, menolong murni karena keikhlasan karenaNya dan tanpa tendensi, mampu mengambil tindakan yang tepat dengan penuh pertimbangan. Dengan akhlak kepada orang lain, semoga mereka dapat menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lain.

Semoga hal ini dapat terwujud. InsyaAllah.

Semoga kelak kita bisa menjadi orang tua yang bertanggung jawab bagi anak-anak kita dan diberi kemudahan untuk mempertanggungjawabkan mereka dihadapanNya kelak. Amin.

Wassalam.

Kisah Seguci Emas

Menara Standchart, 04 Februari 2011

Kisah Seguci Emas

Sebuah kisah yang terjadi di masa lampau, sebelum Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dilahirkan. Kisah yang menggambarkan kepada kita pengertian amanah, kezuhudan, dan kejujuran serta wara’ yang sudah sangat langka ditemukan dalam kehidupan manusia di abad ini.

Al-Imam Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اشْتَرَى رَجُلٌ مِنْ رَجُلٍ عَقَارًا لَهُ فَوَجَدَ الرَّجُلُ الَّذِي اشْتَرَى الْعَقَارَ فِي عَقَارِهِ جَرَّةً فِيهَا ذَهَبٌ فَقَالَ لَهُ الَّذِي اشْتَرَى الْعَقَارَ: خُذْ ذَهَبَكَ مِنِّي إِنَّمَا اشْتَرَيْتُ مِنْكَ الْأَرْضَ وَلَمْ أَبْتَعْ مِنْكَ الذَّهَبَ. وَقَالَ الَّذِي لَهُ الْأَرْضُ: إِنَّمَا بِعْتُكَ الْأَرْضَ وَمَا فِيهَا. فَتَحَاكَمَا إِلَى رَجُلٍ فَقَالَ الَّذِي تَحَاكَمَا إِلَيْهِ: أَلَكُمَا وَلَدٌ؟ قَالَ أَحَدُهُمَا: لِي غُلَامٌ. وَقَالَ الآخَرُ: لِي جَارِيَةٌ. قَالَ: أَنْكِحُوا الْغُلَامَ الْجَارِيَةَ وَأَنْفِقُوا عَلَى أَنْفُسِهِمَا مِنْهُ وَتَصَدَّقَا

Ada seorang laki-laki membeli sebidang tanah dari seseorang. Ternyata di dalam tanahnya itu terdapat seguci emas. Lalu berkatalah orang yang membeli tanah itu kepadanya: “Ambillah emasmu, sebetulnya aku hanya membeli tanah darimu, bukan membeli emas.”

Si pemilik tanah berkata kepadanya: “Bahwasanya saya menjual tanah kepadamu berikut isinya.”

Akhirnya, keduanya menemui seseorang untuk menjadi hakim. Kemudian berkatalah orang yang diangkat sebagai hakim itu: “Apakah kamu berdua mempunyai anak?”

Salah satu dari mereka berkata: “Saya punya seorang anak laki-laki.”

Yang lain berkata: “Saya punya seorang anak perempuan.”

Kata sang hakim: “Nikahkanlah mereka berdua dan berilah mereka belanja dari harta ini serta bersedekahlah kalian berdua.”

Hikmah dari Kisah

Sungguh, betapa indah apa yang dikisahkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini. Di zaman yang kehidupan serba dinilai dengan materi dan keduniaan. Bahkan hubungan persaudaraan pun dibina di atas kebendaan. Wallahul musta’an.

Dalam hadits ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisahkan, transaksi yang mereka lakukan berkaitan sebidang tanah. Si penjual merasa yakin bahwa isi tanah itu sudah termasuk dalam transaksi mereka. Sementara si pembeli berkeyakinan sebaliknya; isinya tidak termasuk dalam akad jual beli tersebut.

Kedua lelaki ini tetap bertahan, lebih memilih sikap wara’, tidak mau mengambil dan membelanjakan harta itu, karena adanya kesamaran, apakah halal baginya ataukah haram?  Mereka juga tidak saling berlomba mendapatkan harta itu, bahkan menghindarinya. Simaklah apa yang dikatakan si pembeli tanah: “Ambillah emasmu, sebetulnya aku hanya membeli tanah darimu, bukan membeli emas.”

Barangkali kalau kita yang mengalami, masing-masing akan berusaha cari pembenaran, bukti untuk menunjukkan dirinya lebih berhak terhadap emas tersebut. Tetapi bukan itu yang ingin kita sampaikan melalui kisah ini.

Hadits ini menerangkan ketinggian sikap amanah mereka dan tidak adanya keinginan mereka mengaku-aku sesuatu yang bukan haknya. Juga sikap jujur serta wara’ mereka terhadap dunia, tidak berambisi untuk mengangkangi hak yang belum jelas siapa pemiliknya. Kemudian muamalah mereka yang baik, bukan hanya akhirnya menimbulkan kasih sayang sesama mereka, tetapi menumbuhkan ikatan baru berupa perbesanan, dengan disatukannya mereka melalui perkawinan putra putri mereka. Bahkan, harta tersebut tidak pula keluar dari keluarga besar mereka. Allahu Akbar.

Bandingkan dengan keadaan sebagian kita di zaman ini, sampai terucap dari mereka: “Mencari yang haram saja sulit, apalagi yang halal?” Subhanallah.

Alangkah baik dan indahnya jika kita dapat mengikuti sikap wara’ mereka, serta kemampuan memberikan solusi seperti yang dicontohkan Rasulullah saw pada kisah ini. Amiiin :).

Wiseword

Jakarta, 17 Juli 2012

Wiseword: Tetaplah Dalam Kebaikan

“Bila engkau baik hati, bisa saja orang lain menuduhmu punya pamrih; tapi bagaimanapun, berbuat baiklah”..

“Bila engkau jujur dan terbuka, mungkin saja orang lain akan menipumu; tapi bagaimanapun, jujur dan terbukalah”…

“Bila engkau mendapat ketenangan dan kebahagiaan, mungkin saja orang lain jadi iri; tapi bagaimanapaun, berbahagialah”…

“Bila engkau sukses, engkau akan mendapat beberapa teman palsu, dan beberapa sahabat sejati; tapi bagaimanapun, jadilah sukses”…

“Apa yang engkau bangun selama bertahun-tahun mungkin saja dihancurkan orang lain hanya dalam semalam; tapi bagaimanapun, bangunlah”…

“Kebaikan yang engkau lakukan hari ini, mungkin saja besok sudah dilupakan orang; tapi bagaimanapun, berbuat baiklah”…

“Bagaimanapun, berikan yang terbaik dari dirimu.. Karena pada akhirnya, engkau akan tahu bahwa ini adalah urusan antara engkau dan Tuhanmu. Ini bukan urusan antara engkau dan mereka”

Dzahabtu min Baitullah

Jakarta, 14 Mei 2012

Dzahabtu min Baitullah

Alhamdulillah, dzahabtu min baitullah ma’a ummii, wa abii, wa akhii, wa ukhtii.

Dzahabnaa ilaa hunaaka fii isnaini ‘asyar yaum.

Alhamdulillah wa subhanallah, jamil jiddan akhlaqa shahshon hunaaka.

Sa adzhab kamman insyaAllah, amin.

 

What Every Business Analyst Should Know

Jakarta, 10-10-2011

What Every Business Analyst Should Know

Here are some knowledge for me that seems quite important for my profession. thanks to the link, http://www.130bbs.com/2010/07/23/what-every-business-analyst-should-know/ .

What Every Business Analyst Should Know

July 23rd, 2010 posted by admin
What Every Business Analyst Should Know

All business analysts should know about the importance of what they should ask when they are analysing the performance of a company. They should also know what the client wants and how their analysis is going to help them, it also helps if they are trained as a independent financial adviser as most business problems tend to hinge on money.

They should try to understand the problems the business they are analyzing, is facing. This is because if they do not understand the problem, then they cannot solve it. They should know that the project program is not going to help in knowing what the client actually desires.

The second step is to know how the business is trying to alleviate or solve the problem that they are facing. The actions taken in the past should also be taken note of, so that you can tell your client what to do. Question your client and find out what they have done previously. You will soon find out what action was not undertaken in the past.

The third step is to question about the resources that the project is utilizing and what are the outside resources that may be necessary for the completion of the project. Make a list of the external interactions taken by the business. This will help you to define the company’s weakness and strength.

The fourth step is to determine a vision for the project. Make a comparision with the one that you have kept in mind for the business. This will help you to ensure the consistencies and find out the parallel outlook. This means that both your vision and your client’s vision should be the same.

The fifth step is to find out about the risks that you forsee and also the risks that you are willing to let your client take. Try to overcome their fears and doubts by explaining clearly about the risk factors.

The sixth step is to set up a time frame for the project. Most businessmen have set time constraints, which in fact affect the progress of the business. Find out the time frame and set up your plans accordingly.

The seventh step is to know about the projected cost of the program and the end user. For this you should collect marketing data so that you can find out what the end user actually desires. Every business analyst should know that to reach the goal is the real objective, and for this he must talk, listen and question everyone who is involved in the program.

Hakikat Cinta & Pernikahan Ala Socrates

21 Sept 2011

Suatu hari, Plato bertanya pada gurunya, Socrates, “Apakah hakikat cinta? Bagaimana saya menemukannya?

Gurunya menjawab, “Ada ladang gandum yang luas didepan sana. Berjalanlah kamu dan tanpa boleh mundur kembali, kemudian ambillah satu saja ranting. Jika kamu menemukan ranting yang kamu anggap paling menakjubkan, artinya kamu telah menemukan cinta” .

Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan tangan kosong, tanpa membawa apapun.

Gurunya bertanya, “Mengapa kamu tidak membawa satupun ranting?”

Plato menjawab, “Aku hanya boleh membawa satu saja, dan saat berjalan tidak boleh mundur kembali (berbalik)”. Sebenarnya aku telah menemukan yang paling menakjubkan, tapi aku tak tahu apakah ada yang lebih menakjubkan lagi di depan sana, jadi tak kuambil ranting tersebut.

Saat kumelanjutkan berjalan lebih jauh lagi, baru kusadari bahwasanya ranting-ranting yang kutemukan kemudian tak sebagus ranting yang tadi, jadi tak kuambil sebatangpun pada akhirnya”

Gurunya kemudian menjawab ” Jadi ya itulah cinta”

Keesokan paginya, bertanya pulalah Plato kepada Socrates…”Guru sekarang aku sudah memahami hakikat cinta, tetapi apakah perbedaannya dengan hakikat perkawinan?, Bagaimana saya bisa menemukannya?”

Gurunya pun menjawab “Ada hutan yang subur didepan saja. Berjalanlah tanpa boleh mundur kembali (menoleh) dan kamu hanya boleh menebang satu pohon saja. Dan tebanglah jika kamu menemukan pohon yang paling tinggi, karena artinya kamu telah menemukan apa itu pernikahan”

Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan membawa sebuah pohon.

Gurunya bertanya, “Apakah ini adalah pohon yang terbaik yang kau temui di hutan?”

Plato pun menjawab, “Pohon inilah yang saya pilih dengan sejumlah alasan, meskipun bukanlah pohon yang terbaik yang saya lihat di dalam hutan. Berdasarkan pengalaman sebelumnya, setelah menjelajah hampir setengah hutan, ternyata saya kembali dengan tangan kosong. Kali ini saya tidak mau mengulangi kesalahan yang sama. Saya berjalan dan melihat sebuah pohon yang saya rasa sangat baik. Karenanya segera saya tebang dan saya tidak lagi melihat-lihat pohon lain. Saya yakin bahwa pilihan saya tepat dan segera membawanya ke sini.”

Sambil mengusap janggutnya sembari tersenyum, Socrates menjelaskan pada Plato:” Itulah “Hakikat Perkawinan”, di mana engkau berani memutuskan memilih yang baik menurut pandanganmu dan walaupun engkau tahu bahwa itu bukanlah yang terbaik, di sinilah engkau menentukan sikap dalam memilih, di mana perkawinan adalah pengambilan keputusan yang berani, penyatuan dua hati, penyatuan dua karakter yang berbeda di mana dua insan ini harus dan berani berbagi serta menyatukan dua pandangan menjadi satu dalam menerima kekurangan dan kelebihan pasangannya.

A Conversation

Standchart, 18 August 2011

A Conversation

Bismillahirrahmanirrahim

Pada tanggal 16 august kemarin kantorku mengadakan buka bersama di Hotel Mulia. Setelah selesai, saya (bersama teman) mengantri taksi di lobby hotel. Di belakangku ada seorang perempuan (bersama temannya) yang tampak ingin menunggu taksi juga, lalu kutanya, “are you waiting for taxi?, you can stand here, this is the waiting line”. Oya, dia berwajah kearab-araban, makanya saya ajak dia bhs inggris, dan ternyata dia faham beberapa kosa kata indonesia namun lebih lancar berbicara dalam bahasa inggris. Lalu kami pun ngobrol, rupanya dia berasal dari Arab Saudi dan sedang kuliah Master di Australia. Dia hendak pulang ke Saudi dan pesawatnya transit di Indonesia dan Singapore. Well, we talked much, about 10 minutes before my taxi come. It was a nice conversation. And I think that it is interesting and great that a woman from Saudi is eager to travel that far, from Saudi to Australia, to study.

Then I remember my own willingness to go to Europe. I wanna see UK, I wanna see London. I love hear them speak, I like their accents, terdengar lebih sopan, lebih bertatakrama, lebih terstruktur, and mainly because it sounds very posh and sophisticated. Sometimes I’ll go there InsyaAllah. But firstly, saya mau berkunjung ke negara teman baruku diatas, Saudi, it’s in my first priority now. As my mother told me to prioritize umroh then travel to Europe. We’ll see, insyaAllah, semoga semua dimudahkan, dilancarkan, dan diberkahiNya.

Wassalam.

VB Biography

Menara Standchart, 8 August 2011

VB Biography

 

Hello again…. :) ,, well, since I am a fan of posh spice, Victoria Beckham, I know several things of her like she has a dog named twiggy.. and now let me share you more about this beautiful-funny-classy woman :),, here it is:

Victoria Caroline Adams is a British singer originally born in Hetfordshire, England on April 7, 1975 under Aries sign. This 5’6” female has two siblings, brother Christian and sister Louise. Her parents, Jackie and Tony, ran a successful electrical wholesale business and were well off by most standards. As a youngster, the glamor Victoria was unexpectedly lonely because she was ashamed as many of her friends often teased her because of her acne and she would even ask her father not to drop her off in front of school so as not to be seen in the family’s Rolls-Royce. Dancing was an only escape from her loneliness. Such condition made many people think it’s impossible for her to be a pop stardom just the way she is, though she used to be a band member while in school.

At eight years old Victoria enrolled at the Jason Theatre School and kept studying there until she was seventeen. She was then went on studying at the Laine Arts Theatre College in Epsom, Surrey, where she was not seriously involved in dance and modeling. She successfully completed the three year course and set out to find fame and fortune. Notwithstanding that her original school band never took off, Victoria’s life was totally changed as she positively responded an ad in the “Stage” magazine that was looking for five females between 18-23 who can sing and dance to form a group. Got her self into the audition, she had to compete with 400 others to get the chance to be one of five needed to form the new band. As fate would have it, Victoria became one of the five and the five became the Spice Girls, which would in present time eventually leave an indelible mark in music history.

Soon after their formation, in 1996 the new-formed Spice Girls released their first single “Wannabe,” and their debut album “Spice,” which both became smash hits in the US and abroad. This success automatically brought Victoria, along with her band mates Emma Bunton, Geri Halliwell, Melanie Brown, and Melanie C, to become instant household names, who were able to change the face of pop culture and gave new meaning to “girl power.” Alternated with the group hits, such as “2 Become 1″ and “Spice Up Your Life,” Spice Girls went on to sell over 35 million albums and 25 million singles worldwide, becoming a worldwide phenomenon in the process.

Unfortunately, such excellent success wasn’t last any longer as after worldwide tours, millions of albums sold, and an LP “Spiceworld,” the group member Geri decided to quit the Girls in May 1998, leaving a huge cavity in the group. Nonetheless, the remaining four stand still and in 2000 they released “Forever,” which was tepid in sales, caused the Girls to split up and pursue individual goals. Taking some time off and falling in love in the process, Victoria Adams married ex-Manchester United and present England soccer David Beckham on July 4, 1999, with whom she has three sons; Brooklyn, born March 4, 1999; Romeo, born September 1, 2002; and Cruz, born on February 20, 2005, by caesarian section at the Ruber International Hospital in Madrid, a private clinic where the Spanish Royal Family’s children were born.

Having her own projects in music, Victoria as well released an autobiography she dubbed “Learning To Fly.” In 2001, she released her first solo album, “Victoria Beckham,” which spawned such singles as “A Mind Of Its Own” and “Not Such An Innocent Girl,” which was easily defeated on the charts by Kylie Minogue‘s comeback single. This failure depicted Victoria as being one of the biggest celebrities in Britain who fail in transforming that into chart success. In 2003 Victoria became involved with controversial Rap music producer Damon Dash in an attempt to reignite her music career. Late in December that year a single was released, but was unfortunately a flop. A second single was then planned to be released, which was postponed due to the over-exposure dealt by the affair allegations and the loss of confidence in music industry.

After that keeping her life low profile, the Posh Girl jumped on the fashion bandwagon, teaming up with American high-end fashion and jeans brand Rock and Republic to launch her own line of fashion called “VB Rocks” consisting mainly of jeans. In September 2006, she parted ways with Rock and Republic after two years together and launched her own Denim label, naming her jeans collection DVB Style. Besides, the mother of three also channeled with Japanese store Samantha Thavasa to produce a range of handbags and jewelry. It was not until July 2006 that Victoria released a line of sunglasses, followed thereafter by “Intimately Beckham” fragrance line. On July 12, 2007 Vic and her children made their official move tothe US, following in hubby David who was signed to play for the Los Angeles Galaxy of Major League Soccer. In the wake of her move to the nation, she signed a deal with NBC for six episodes of a half-hour unscripted reality TV series “Victoria Beckham: Coming to America” which became the third most watched program in its time-slot and received viewing figures of 4.9 million in America.

——–

Don’t worry, it’s not me who wrote that all, it’s taken from a website ;).

Source: http://www.aceshowbiz.com/celebrity/victoria_adams/biography_3.html