Bincang-Bincang; Konsep Pendidikan, Keterampilan, dan Kesempurnaan Penyelesaian Pekerjaan

Bismillahirrahmanirrahim
Sangatta, 2 March 2009

Bincang-Bincang; Konsep Pendidikan, Keterampilan, dan Kesempurnaan Penyelesaian Pekerjaan


Suatu waktu, saya berbincang-bincang dengan sodara seputar kurikulum pendidikan. Dari hasil pengamatannya sewaktu menimba ilmu disuatu tempat di negara x, ia mengatakan bahwa kurikulum disana cukup berbeda dengan kurikulum di kita. Setidaknya yang dia amati disana adalah sistem pendidikan tingkat TK-SD. Jika dibandingkan dengan kurikulum Indonesia yang lebih menekankan ke sistem hafalan terhadap banyaknya materi pelajaran, umumnya anak-anak di luar lebih difokuskan ke arah proses, pengalaman, serta pendalaman terhadap ide kurikulum itu sendiri.

Misalnya begini, di Indonesia kita disuruh menghafal sistem tata surya yang terdiri dari matahari, planet-planet, serta benda-benda langit lain yang mengitarinya. Sementara di luar, para murid diajarkan untuk membuat sistem tata surya tersebut. Mereka membuat matahari, planet2 dan benda lainnya, serta kerangka lintasannya. Sehingga mereka lebih terlibat dengan dunia dari konsep itu sendiri.

Menghafal merupakan cara belajar lama dan baik untuk meningkatkan daya ingat. Namun membuat/mengerjakan/mewujudkan konsep hafalan itu sendiri menurutku merupakan cara belajar paling efektif untuk lebih memahami sesuatu serta memicu perkembangan kreativitas anak. Cabang-cabang ide dapat bermunculan dalam proses pembuatan tersebut. Namun selain pemikiran, menurutku sense keteknikan pun perlu diasah.

Saya jadi teringat dengan salah satu games yang dimainkan pada waktu out bond pertamina. Di dalam tim, saya berperan sebagai advisor. Ketika proses perencanaan yang notabene melibatkan pikiran/ide, rasanya semua mengalir dengan cukup lancar. Namun ketika proses perwujudan ide2 tersebut dimulai, saya tidak dapat melaksanakannya selancar ketika merencanakannya. Hal ini cukup lama hinggap di pikiranku, bahkan hingga saat ini pun masih sering saya pertanyakan, mengapa demikian? Kelancaran ide tak sebanding dengan kemampuan bertindak.

Di lain waktu, saya mengamati pekerjaan-pekerjaan yang diselesaikan oleh orang-orang Indonesia maupun luar. Baik di perusahaan tempat saya bekerja maupun di tempat-tempat umum seperti pemerintahan, fasilitas jalan, tempat ibadah, kompleks perumahan, dll. Contohnya adalah, kompleks perumahan tempat saya bekerja dengan kompleks perumahan perusahaan tambang batu bara kompleks tetangga (KPC). Setahu saya, KPC memiliki share dengan luar negeri, pegawainya sendiri banyak yang dari luar sehingga kemungkinan konsep dan pengerjaan fasilitas perumahan mereka diawasi oleh mereka sendiri. Setelah jalan-jalan ke kompleks mereka, saya membandingkan bahwa perumahan mereka dikerjakan dan ditata dengan sangat apik. Konturnya, finishing touchnya, taman, jalan, pengecatan tembok, jarak antar rumah, jarak antar tanaman, jenis material bangunan dan cat, dll. Pengerjaan kompleks mereka benar-benar selesai dan bukan asal selesai. Nilai estetika pun sangat mereka perhatikan.

Ketiga hal tersebut menurutku memiliki hubungan. Yaitu antara konsep pendidikan tersebut diatas, contoh games di outbond, serta kesempurnaan penyelesaian pekerjaan para ekspatriat/orang luar ini. Dalam pandangan saya, kesempurnaan pekerjaan didasari oleh kemampuan mengaplikasikan isi pikiran dikarenakan keterbiasaan dalam melibatkan diri pada setiap konsep pembelajaran. Jadi jika kita terbiasa mempelajari suatu konsep dengan melibatkan diri mewujudkan/mengerjakannya maka kita akan membangun sense keteknikan / keterampilan tertentu. Setelah sense keteknikan / keterampilan ini terbangun, maka selanjutnya kita akan semakin ahli kemudian semakin sempurna dalam menyelesaikan sesuatu. Semakin sering proses ini terulang, semakin kita menguasainya, sehingga semakin baik hasilnya. Ini bisa dikorelasikan dengan salah satu filosofi Jepang – Kaizen – perbaikan dari waktu ke waktu, penyempurnaan dari waktu ke waktu. Penyempurnaan berkesinambungan.

Jadi kesimpulannya, desain kurikulum sekolah sejak SD hingga perkuliahan sangat mempengaruhi bagaimana keterampilan dan tingkat kesempurnaan penyelesaian pekerjaan seseorang nantinya. Dan hal ini baru dapat dilihat setelah 10-20 tahun sejak belajar formal di SD. Jadi jika kita hendak meningkatkan performa sumber daya manusia kita, maka kita sudah tahu harus memulai darimana.

Wallahu ’alam bisshawab.

2 thoughts on “Bincang-Bincang; Konsep Pendidikan, Keterampilan, dan Kesempurnaan Penyelesaian Pekerjaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s