A Conversation

Standchart, 18 August 2011

A Conversation

Bismillahirrahmanirrahim

Pada tanggal 16 august kemarin kantorku mengadakan buka bersama di Hotel Mulia. Setelah selesai, saya (bersama teman) mengantri taksi di lobby hotel. Di belakangku ada seorang perempuan (bersama temannya) yang tampak ingin menunggu taksi juga, lalu kutanya, “are you waiting for taxi?, you can stand here, this is the waiting line”. Oya, dia berwajah kearab-araban, makanya saya ajak dia bhs inggris, dan ternyata dia faham beberapa kosa kata indonesia namun lebih lancar berbicara dalam bahasa inggris. Lalu kami pun ngobrol, rupanya dia berasal dari Arab Saudi dan sedang kuliah Master di Australia. Dia hendak pulang ke Saudi dan pesawatnya transit di Indonesia dan Singapore. Well, we talked much, about 10 minutes before my taxi come. It was a nice conversation. And I think that it is interesting and great that a woman from Saudi is eager to travel that far, from Saudi to Australia, to study.

Then I remember my own willingness to go to Europe. I wanna see UK, I wanna see London. I love hear them speak, I like their accents, terdengar lebih sopan, lebih bertatakrama, lebih terstruktur, and mainly because it sounds very posh and sophisticated. Sometimes I’ll go there InsyaAllah. But firstly, saya mau berkunjung ke negara teman baruku diatas, Saudi, it’s in my first priority now. As my mother told me to prioritize umroh then travel to Europe. We’ll see, insyaAllah, semoga semua dimudahkan, dilancarkan, dan diberkahiNya.

Wassalam.

Buku Baru-ku

Jaksel, 9 Februari 2010

Buku Baru-ku

Bismillah

InsyaAllah hari ini adekku akan mengirim buku-buku yang kupesan beberapa hari yang lalu. Ahh… senangnya hatiku. Sudah lama aku tidak belajar. Sudah lama tidak bercengkrama dengan ilmu.

Untuk buku-buku yang dikirim adekku itu, aku memang masih pendatang baru. Pasti jauh tertinggal oleh teman-teman yang lain. Tetapi tidak mengapa, cukuplah kecintaanku pada ilmu dan semangatku untuk mempelajarinya yang senantiasa menemani.

Entah mengapa, adalah hal yang menyenangkan untukku melihat orang belajar. Dijadikan indah bagiku para penuntut ilmu dan ilmu itu sendiri. Didalam pencapaian para penuntut ilmu kepada pemahaman, terdapat proses pergelutan dan tarik menarik pikiran yang menarik hati. Lebih luasnya, ilmu itu bukan hanya yang bersifat tertulis, tetapi juga yang terdengar dan teramati.

Terdapat beberapa dalil dari al-quran maupun hadits yang memberitahukan tentang pentingnya menuntut ilmu ini, diantaranya adalah:

1.) Niscaya Alloh akan meninggikan beberapa derajat orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat (Qur’an Al mujadalah 11)
..
2.) Seseorang yang keluar dari rumahnya untuk menuntut ilmu niscaya Alloh akan mudahkan baginya jalan menuju Syurga (Shahih Al jami)
..
3.) Siapa yang keluar untuk menuntut ilmu maka dia berada di jalan Alloh sampai dia kembali(Shahih tirmidzi)
..
Ali bin Abi Thalib mengatakan, ‘Pelajarilah yang paling penting dulu, kemudian yang penting, kemudian yang penting, dan seterusnya’. Dan yang dimaksud yang paling penting disini adalah ilmu agama. Sebagaimana pada hadits berikut:
..
4.) Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Qur’an dan yang mengajarkannya (HR bukhari )
..
5.) Siapa yang Alloh kehendaki menjadi baik maka Alloh akan memberikannya pemahaman terhadap Agama (Sahih ibnu majah)
..
Walaupun ilmu yang terdapat pada buku yang kumaksud diatas bukanlah ilmu agama, tetapi siapa tahu ilmu didalamnya dapat membawa pemahaman kepada dalil ‘aqli dan dapat membawa pembelajarnya untuk menghubungkannya dengan dalil naqli.

Bagaimanapun itu, semoga senantiasa pembelajar itu dapat mengambil hikmah dari apa-apa yang mereka pelajari serta diluruskan niatnya menuntut ilmu hanya karenaNya. Amin.

Wallahu ‘alam bisshawab. Wassalam.

Liqo Pertamax di 2010

Jakarta, 18 Januari 2010

Liqo Pertamax di 2010

Alhamdulillah setelah 3 bulan diriku vakum dari Liqo sebab harus bolak-balik jkt-bdg mengikuti SPN (Sekolah Pra Nikah) di Salman, akhirnya weekend lalu bisa ikut liqo’ lagi. Betapa kangennya diri ini dengan temen-temen akhwat seperjuangan dijakarta. Sudah lama tidak bertemu mereka. Dan sudah lama tidak berjumpa pula dengan teteh mentor dan mendengarkan materinya =).

Hmm….. ternyata yang kangen bukan cuma aku saja, mereka juga kangen karena sudah sekitar 3 minggu liqo’ absen karena tetehnya abis nikah, hehe, selamat…  Ikut seneng ya teh =).

Pada kesempatan liqo’ yang merupakan liqo’ pertamax di 2010 ini, materi yang diberikan adalah tentang Ibadah Hanya Kepada Allah. Aku suka materi ini. Materinya ada di buku catatan, deuuh catatannya ga dibawa lagi, ga bisa nyontek, hehe. Disini dibahas juga tentang tingkatan-tingkatan ahli ibadah. Aku masuk yang mana yaa? Ga tau, kayakny yg plg rendah.

Sebelum materi diberikan, kita-kita saling share dulu tentang keadaan masing-masing selama 1 bulan terakhir. Hmm…. cem macemlah…. ada yang sulit sholat tepat waktu di tempat kerja, ada yang lagi lempeng-lempeng aja, ada yang sedang menanti peak season di kantor, dll. Aku sendiri… ehmm…. 5 Januari 2010 kemarin hari terakhir SPN, alhamdulillah tuntas sudah babak aku menuntut ilmu yang kucari kali ini, aku cukup mendapatkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang senantiasa memenuhi benakku selama ini…. illaa bi’idznillah, alhamdulillah. Senangnyaaa…….. Karena akanlah sulit kakiku melangkah jika tak kuketahui kepada apa kulangkahkan? Dan akanlah goyah hatiku selalu jika tak kuketahui kepada apa aku labuhkan? Makanya aku senang, karena bertambah 1 lagi ilmuku, alhamdulillah.

Wassalam.

Working & Educational Background

Jakarta, 14 January 2010

Working & Educational Background

This morning at pantry, I involved in discussion with 3 other person. The topic is about the right person in the right place in working place. One of the strong issue is, should several positions are filled by the right man from the correlated education background?

I think this issue will always be continued and will never be ended until the sun stop shining. Because there will be people who will say yes and also no. Whether from the professionals or from the HR Department.

From my point of view, both side are correct and are applicabled. One division can be filled by worker with related education background and can be from the not-one too. It depends on the company’s need in that division.

Human is equipped by some natural skills. And then in their way life, they got another skill and knowledge from their education. In one of company’s introduction I attended in my campus, the user of the company said that employee are recruited based on two things, the first is the knowledge they get from their formal education, and second is the ‘knowledge’ they get from their activities in campus. The education knowledge help them in doing their job. But their experiences and their ‘activities knowledge’ in campus help them to survive in working.

Since employee’s interest are different one from another, their abilities will also vary one from another. These abilities – the know what and the know how – will bring the employee to able to do the job whether it is related to his educational background or not.

That’s all my explanation. Wassalam.

BIUS 2009

Jakarta, 11 Juni 2009

BIUS 2009

Besok adalah pengumuman peserta yang lolos dan berhak kuliah gratis dan mendapatkan Beasiswa ITB Untuk Semua (BIUS)… Tapi mengapa saya ikut deg-degan?? Sebagai relawan yang bertugas menelepon dan memberikan informasi dan arahan pada peserta BIUS, saya tetap berhubungan dengan adik-adik yang saya hubungi kemarin serta memberi support, doa, dan motivasi kepada mereka..

Wish them their best, I’ll be happy for them :)

Wassalam.

Beasiswa ITB Untuk Semua

Pojok Kost, Jakarta Selatan

21 Mei 2009

Beasiswa ITB Untuk Semua

Di suatu siang di kantor, saya membuka milis ITB angkatan saya. Ada sebuah percakapan tentang “Beasiswa ITB Untuk Semua” yang ternyata sedang membutuhkan relawan untuk mendatangkan peserta ke ITB Bandung untuk menjalani test USM. Saya membaca milis ini dan tertarik menjadi relawan. Saya kemudian menghubungi panitia yang tercantum di milis tersebut dan setelah confirmed saya pun resmi jadi relawan.

Saya diberitahu bahwa saya memegang 9 orang anak, 4 dari Jawa Timur dan 5 dari Jawa Barat. Saya bertugas menelepon dan memberi informasi-informasi yang diperlukan kepada mereka. Dari Sembilan anak ini, saya memutuskan menghubungi yang berasal dari Jawa Timur dulu karena perjalanan mereka menuju Bandung lebih rumit. Saat ini sudah 7 orang dari mereka yang telah saya hubungi.

Banyak pengalaman serta tumpah ruah perasaan yang saya alami ketika menjadi relawan ini, saya yakin banyak anak-anak bangsa negeri ini nun jauh di pelosok sana yang memiliki potensi tiada batas…When there is a will, there is a way.. and they need direction, information, and chance… terkadang mereka terkendala masalah ketidaktahuan informasi beasiswa, dll…

Senangnya bisa menjadi bagian dari program Beasiswa ini…

Alhamdulillah.. semoga Beasiswa ini terus berlanjut setiap tahunnya dengan porsi siswa yang meningkat, sehingga semakin banyak siswa dari seluruh pelosok Indonesia yang bisa mengecap pendidikan tinggi, demi kelanjutan kualitas anak bangsa, demi kelanjutan kualitas bangsa ini sendiri di tangan mereka kelak…

Amin.

Bincang-Bincang; Konsep Pendidikan, Keterampilan, dan Kesempurnaan Penyelesaian Pekerjaan

Bismillahirrahmanirrahim
Sangatta, 2 March 2009

Bincang-Bincang; Konsep Pendidikan, Keterampilan, dan Kesempurnaan Penyelesaian Pekerjaan


Suatu waktu, saya berbincang-bincang dengan sodara seputar kurikulum pendidikan. Dari hasil pengamatannya sewaktu menimba ilmu disuatu tempat di negara x, ia mengatakan bahwa kurikulum disana cukup berbeda dengan kurikulum di kita. Setidaknya yang dia amati disana adalah sistem pendidikan tingkat TK-SD. Jika dibandingkan dengan kurikulum Indonesia yang lebih menekankan ke sistem hafalan terhadap banyaknya materi pelajaran, umumnya anak-anak di luar lebih difokuskan ke arah proses, pengalaman, serta pendalaman terhadap ide kurikulum itu sendiri.

Misalnya begini, di Indonesia kita disuruh menghafal sistem tata surya yang terdiri dari matahari, planet-planet, serta benda-benda langit lain yang mengitarinya. Sementara di luar, para murid diajarkan untuk membuat sistem tata surya tersebut. Mereka membuat matahari, planet2 dan benda lainnya, serta kerangka lintasannya. Sehingga mereka lebih terlibat dengan dunia dari konsep itu sendiri.

Menghafal merupakan cara belajar lama dan baik untuk meningkatkan daya ingat. Namun membuat/mengerjakan/mewujudkan konsep hafalan itu sendiri menurutku merupakan cara belajar paling efektif untuk lebih memahami sesuatu serta memicu perkembangan kreativitas anak. Cabang-cabang ide dapat bermunculan dalam proses pembuatan tersebut. Namun selain pemikiran, menurutku sense keteknikan pun perlu diasah.

Saya jadi teringat dengan salah satu games yang dimainkan pada waktu out bond pertamina. Di dalam tim, saya berperan sebagai advisor. Ketika proses perencanaan yang notabene melibatkan pikiran/ide, rasanya semua mengalir dengan cukup lancar. Namun ketika proses perwujudan ide2 tersebut dimulai, saya tidak dapat melaksanakannya selancar ketika merencanakannya. Hal ini cukup lama hinggap di pikiranku, bahkan hingga saat ini pun masih sering saya pertanyakan, mengapa demikian? Kelancaran ide tak sebanding dengan kemampuan bertindak.

Di lain waktu, saya mengamati pekerjaan-pekerjaan yang diselesaikan oleh orang-orang Indonesia maupun luar. Baik di perusahaan tempat saya bekerja maupun di tempat-tempat umum seperti pemerintahan, fasilitas jalan, tempat ibadah, kompleks perumahan, dll. Contohnya adalah, kompleks perumahan tempat saya bekerja dengan kompleks perumahan perusahaan tambang batu bara kompleks tetangga (KPC). Setahu saya, KPC memiliki share dengan luar negeri, pegawainya sendiri banyak yang dari luar sehingga kemungkinan konsep dan pengerjaan fasilitas perumahan mereka diawasi oleh mereka sendiri. Setelah jalan-jalan ke kompleks mereka, saya membandingkan bahwa perumahan mereka dikerjakan dan ditata dengan sangat apik. Konturnya, finishing touchnya, taman, jalan, pengecatan tembok, jarak antar rumah, jarak antar tanaman, jenis material bangunan dan cat, dll. Pengerjaan kompleks mereka benar-benar selesai dan bukan asal selesai. Nilai estetika pun sangat mereka perhatikan.

Ketiga hal tersebut menurutku memiliki hubungan. Yaitu antara konsep pendidikan tersebut diatas, contoh games di outbond, serta kesempurnaan penyelesaian pekerjaan para ekspatriat/orang luar ini. Dalam pandangan saya, kesempurnaan pekerjaan didasari oleh kemampuan mengaplikasikan isi pikiran dikarenakan keterbiasaan dalam melibatkan diri pada setiap konsep pembelajaran. Jadi jika kita terbiasa mempelajari suatu konsep dengan melibatkan diri mewujudkan/mengerjakannya maka kita akan membangun sense keteknikan / keterampilan tertentu. Setelah sense keteknikan / keterampilan ini terbangun, maka selanjutnya kita akan semakin ahli kemudian semakin sempurna dalam menyelesaikan sesuatu. Semakin sering proses ini terulang, semakin kita menguasainya, sehingga semakin baik hasilnya. Ini bisa dikorelasikan dengan salah satu filosofi Jepang – Kaizen – perbaikan dari waktu ke waktu, penyempurnaan dari waktu ke waktu. Penyempurnaan berkesinambungan.

Jadi kesimpulannya, desain kurikulum sekolah sejak SD hingga perkuliahan sangat mempengaruhi bagaimana keterampilan dan tingkat kesempurnaan penyelesaian pekerjaan seseorang nantinya. Dan hal ini baru dapat dilihat setelah 10-20 tahun sejak belajar formal di SD. Jadi jika kita hendak meningkatkan performa sumber daya manusia kita, maka kita sudah tahu harus memulai darimana.

Wallahu ’alam bisshawab.