Manajemen Keuangan Diri

Jakarta Selatan, 31 Mei 2010

Manajemen Keuangan Diri

Bismillah.

Uang bukan segalanya, tapi uang merupakan salah satu tools untuk mewujudkan beberapa gala =). Telah purna 13 bulan kubekerja di tempat ini. Maka sudah waktunya melakukan review flashback kegiatan satu tahun yang lalu, kali ini saya akan membahas tentang Self-Financial Management.

Dalam Tips Finansial yang pernah kubaca di salah satu majalah, disebutkan bahwa terdapat 3 jenis pos anggaran, yaitu:

– Must spend,

– Should spend,

– dan Want to spend.

Kalau saya sederhanakan, mirip-mirip dengan primer, sekunder, dan tersier. Yang paling urgent dari 3 pos ini tentunya must spend yaitu biaya yang tidak bisa tidak harus kita keluarkan; misalnya biaya untuk makan, pembayaran kost, dll. Untuk should spend ini saya lupa maksud dan contohnya yang mana, maklum baca majalahnya sudah agak lama. Sedangkan untuk want to spend adalah item yang ga penting-penting amat, semisal mau shopping dll.

Adapun aturan untuk 3 pos anggaran diatas adalah:

1. Minimal 30% dari total input ditabung,

2. Komposisi terakhir (Want to spend) haruslah yang paling kecil persentasenya.

Definisi menabung disini termasuk berinvestasi. Saya mengenal seseorang yang bisa saving hingga 70% dari total inputnya, well that’s great. Namun saya juga pernah membaca tentang seseorang yang menabung hanya sekitar 8% dari pemasukannya. Hmm.. kendali benar-benar ada ditangan pemiliknya ya..

Beberapa hal yang sering menjadi penyebab meledaknya pengeluaran adalah pembelian barang diluar yang direncanakan. Misal sedang jalan-jalan ke mall lalu ada discount besar-besaran. Jika ada yang demikian, maka lakukanlah filter didalam hati dengan bertanya pada diri sendiri, “apakah barang ini saya butuhkan atau saya inginkan?”. Jika jawabannya adalah saya inginkan, maka tidak membelinya pun tidak mengapa. Namun demikian, sebagaimana ketika kita mengajukan proposal danus ketika kuliah dulu, dalam pengalokasian anggaran pribadi pun perlu kita masukkan alokasi tak terduga, misal untuk keperluan silaturrahmi yang tiba-tiba, dll.

Tentang pengontrolan anggaran ini saya jadi ingat falsafah ibuku, prinsip beliau, “yang ada di tangan lah yang dapat kita kendalikan”. Artinya, fokuslah pada pengelolaan rejeki yang telah kita dapatkan, jangan terlalu boros namun jangan terlalu kikir juga (ingat: 2.5% jatah fakir miskin ada dlm rejeki kita, itu adalah hak mereka) . Kemudian, cara lain yang dapat digunakan adalah dengan mengingat bahwa kita harus mempersiapkan anggaran pendidikan anak kita kelak sedini mungkin yaitu mulai dari sekarang. Jadi kita akan mengingat bahwa ada tujuan yang lebih mulia dan jauh ke depan sehingga kita insyaAllah akan lebih bisa me-rem keinginan belanja kita.

So.. So… tunggu apalagi? selamat mengefisiensikan anggaran ya…

Wassalam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s